Talud: Definisi, Jenis, Fungsi dan Perbedaannya dengan Turap

Talud adalah dinding penahan tanah yang sering terlihat di bantaran sungai. Anda pasti sering melihatnya ketika melewati sungai atau danau yang terdapat pemukiman warga di sekitarnya. Rumah di area tersebut membutuhkan talud supaya tidak mengalami longsor akibat pergeseran tanah.

Beberapa wilayah Indonesia memang rawan mengalami longsor karena perbedaan kemiringan dan kontur tanah. Ada beberapa jenis dinding penahan tanah sehingga bisa mencegah longsor, yaitu bronjong, turap, dan talud. Kali ini, Klopmart akan mengulas tentang talud dan perbedaannya dengan turap. Langsung simak saja artikel ini sampai selesai.

Pengertian Talud dan Fungsinya

Talud terbuat dari batu kali yang disusun hingga menjadi penahan tanah. Dalam proses pembuatannya, batu kali memerlukan campuran semen, pasir, dan air yang membentuk beton sehingga lebih kuat dan saling menyatu. Jenis batu-batuan yang digunakan berasal harus dari pegunungan karena memiliki struktur yang kasar. Struktur batu yang kasar akan membuat semen terikat lebih erat dengan batu-batuannya. 

Pemasangan talud biasanya diterapkan pada konstruksi bangunan yang berada di atas kemiringan tertentu agar tidak mudah goyah atau roboh. Talud berfungsi sebagai penahan gaya tekanan lateral alias pergerakan dari tanah ataupun air. Tanah yang dibangun talud akan memiliki tingkat stabilitas yang lebih besar.

Tingkat kestabilan tanah yang besar justru dapat mencegah terjadinya longsor. Biasanya, longsor terjadi karena beberapa faktor, mulai dari massa tanah yang terlalu rendah, resapan air tanah yang berlebih, hingga kurangnya tanaman hijau di area tersebut. Talud harus dibangun dengan tepat agar bisa mencegah longsor alias pergeseran struktur tanah.

Baca juga: Cara Merawat Batu Alam Dinding Teras Depan dengan Efektif

Selain itu ada pula fungsi talud lainnya, yaitu:

  • Mencegah erosi akibat penggundulan hutan.
  • Menahan tekanan tanah aktif sehingga mencegah longsor.
  • Melindungi pemukiman dan warga yang tinggal di area bantaran sungai atau dataran tinggi agar tidak terkena longsor.
  • Meningkatkan ketahanan rumah atau gedung dari longsor.
  • Membatasi saluran irigasi atau drainase sehingga kualitas hasil pertanian tetap terjaga.
  • Menjaga tingkat stabilitas dan kontur tanah yang berada di wilayah dataran tinggi.
  • Menahan tekanan air pada tanah sehingga bangunan yang berdiri di atasnya tidak mudah runtuh.

Jenis-Jenis Talud

Ada banyak jenis talud berdasarkan material dan bentuk konstruksi yang digunakan. Berikut ini penjelasan lengkapnya.

1. Gabion

Pertama, ada talud berbentuk gabion yang terlihat berbeda daripada jenis lainnya. Ciri khas talud gabion adalah memiliki penopang berupa penahan bronjong yang mengarah secara vertikal. Konsep pembangunan gabion ini mirip seperti terasering sawah. Gabion ini pada dasarnya mirip seperti bronjong, yaitu batu kali yang dibungkus dengan kawat logam yang disusun membentuk anyaman.

2. Dinding Kantilever (Cantilever Wall)

Dinding kantilever merupakan jenis talud yang berbentuk huruf T terbalik. Fungsi utamanya yaitu menahan gaya tekan tanah pada bagian kantilevernya. Strukturnya terdiri dari dinding vertikal, tumit tapak, dan ujung kaki tapak alias hoe. Prinsip kerja talud kantilever sangat sederhana, yakni menggunakan daya jepit yang terletak pada bagian dasar struktur kantilever. Dinding kantilever biasanya menggunakan material beton bertulang.

3. Penahan Gravitasi (Gravity Wall)

Sesuai namanya, dinding talud ini sangat kokoh karena mengandalkan gaya gravitasi. Dinding gravitasi memiliki prinsip kerja yang mengandalkan berat material konstruksinya. Tanah akan mampu menahan tekanan lateral apabila bobot massanya cukup tinggi. Sama seperti dinding kantilever, gravity wall juga menggunakan beton bertulang dalam material pembuatannya.

4. Blok Beton

Ada pula talud yang terdiri dari susunan blok beton yang cukup padat. Cara pemasangannya sederhana, yaitu menyusun blok beton secara vertikal dan memasang sistem pengunci di sela-selanya. Terlepas dari prosesnya yang mudah, pembuatan blok beton harus mematuhi standar yang berlaku sehingga taludnya tidak mudah roboh.

5. Talud Tipe Turap

Berikutnya, ada talud yang dibuat menyerupai turap alias sheet pile. Talud ini dipasang untuk membendung air atau menahan tekanan lateral tanah yang aktif. Talud tipe turap menggunakan material berupa beton baja sehingga menghasilkan kualitas yang mumpuni. Tidak heran apabila talud ini digunakan untuk tanah yang memiliki gedung tinggi di atasnya. Selain itu, talud tipe turap juga tahan terhadap cuaca lingkungan yang ekstrem.

Baca juga: 7 Cara Pasang Bronjong yang Benar, Apa Saja?

6. Revetment dan Dinding Kisi

Revetment merupakan dinding penahan sederhana yang dipasang di dekat sungai atau pantai dan menggunakan material berupa beton, kayu, atau bebatuan khusus lainnya. Selain revetment, ada juga dinding kisi yang menggunakan material beton precast, logam, atau kayu. Dinding kisi ini dilapisi dengan angkur, kemudian ditanam agar tanah di sekitarnya lebih stabil.

Perbedaan Talud dan Turap dari Beberapa Aspek

Talud dan turap sama-sama merupakan dinding penahan tanah alias retaining wall. Namun, ada perbedaan yang mendasar antara dua jenis dinding tersebut dari segi material, ketahanan, dan biaya pembuatannya. Simak penjelasan lengkapnya.

1. Aspek Material

Talud menggunakan material konstruksi bangunan seperti batu, pasir, dan semen. Namun, ada pula talud yang menggunakan anyaman kawat karena dibuat menyerupai bronjong. Sementara itu, turap bisa dibuat dari material yang bervariasi, yaitu kayu, beton, atau baja tergantung tekanan tanahnya. Tidak heran jika Anda menemukan turap dari material yang berbeda di beberapa wilayah.

2. Aspek Ketahanan

Talud bisa dibangun pada tanah berbatu dan memiliki tekanan tinggi. Dimensi ukuran talud juga cukup besar sehingga bisa menahan tekanan tanah yang tinggi dan tanggul sungai beraliran deras. Kesimpulannya, talud lebih banyak ditemukan pada daerah dengan risiko longsor yang besar.

Turap hanya bisa dibangun pada tanah yang memiliki tekanan rendah, tidak berbatu, tetapi kestabilan tanahnya cukup tinggi. Turap jenis kayu malah lebih cocok sebagai penahan tanah sementara sehingga tidak bisa digunakan dalam jangkaa panjang.

Baca juga: Belmont Natural Coat Black Diamond

3. Aspek Biaya Pembuatan

Aspek terakhir dan tidak kalah penting yaitu biaya pembuatannya. Proses pembuatan talud membutuhkan biaya yang lebih besar karena membutuhkan lebih banyak tenaga manusia. Talud juga memerlukan alat berat dan proses pemasangannya pun memakan waktu yang tidak sedikit.

Berbeda dengan talud, pembangunan turap hanya memakan sedikit biaya. Turap juga bisa dibuat dari material kayu, jadi tidak memakan banyak anggaran. Terakhir, proses pengerjaan turap lebih mudah sehingga tidak memerlukan lebih banyak tenaga kerja.

Selain talud dan turap, ada satu lagi jenis dinding penahan tanah yang dikenal sebagai bronjong. Berbeda dengan dua jenis tersebut, bronjong membutuhkan kawat untuk membungkus batu kali yang menjadi penahan dindingnya. Penggunaan bronjong ini sering pula ditemukan di area rawan longsor.

Kawat yang digunakan sebagai pembungkus batu kali tentu harus dipotong menggunakan gunting kawat Sherlock. Merek ini lebih direkomendasikan karena mata pisau yang tajam sehingga bisa memotong kawat setebal apa pun. Selain itu, penggunaannya juga cukup nyaman karena bagian handle-nya dirancang agar ergonomis.

Ingin mencari gunting Sherlock dengan harga kompetitif? Kunjungi saja website Klopmart karena kami memberikan harga gunting kawat Sherlock yang cukup terjangkau. Hubungi kami segera dan lancarkan proses pembangunan bronjong di area Anda hanya dengan gunting kawat Sherlock.

Kesimpulannya, talud adalah konstruksi penahan tanah yang sering ditemukan di beberapa wilayah Indonesia. Pemukiman warga justru akan lebih aman dari bahaya longsor apabila dipasangi talud.

Sumber:


Cek harga klik disini
Media
Admin Klopmart
01 Nov 2022

Related Article